LAPAR SEBAGAI TANDA DAN MITOS SPIRITUALITAS MODERN DALAM PUISI “PERCAKAPAN RAHASIA” KARYA REMY SYLADO
Published 2026-02-14
Keywords
- Semiotika,
- Mitos,
- Spiritualitas Modern,
- Remy Sylado
Copyright (c) 2026 Heri Isnaini (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Abstract
Abstract
This article examines the poem "Secret Conversations" by Remy Sylado using a Barthesian semiotic approach to explore the construction of the meaning of "hunger" as a sign and myth of modern spirituality. The analysis focuses on the relationship between markers and the formation of myths that represent the crisis of desire, the banality of sin, and religious ambiguity in modern human life. The results show that "hunger" not only serves as a metaphor for biological deprivation, but develops into a sign of existential dissatisfaction that is constantly reproduced by consumptive culture. Through religious irony, especially in the representation of angels and secret conversations with God. This poem establishes a myth of personal spirituality that is not entirely subject to normative piety. In this context, Remy Sylado presents a critique of modern culture while opening up a space for sufistic reading, where inner honesty and awareness of one's limitations become the starting point of spiritual experience. These findings confirm that the poem serves as a cultural discourse that reflects the shifting meaning of spirituality in contemporary society.
Keywords: literary semiotics, hunger, myths, modern spirituality, Remy Sylado.
Abstract
Artikel ini mengkaji puisi “Percakapan Rahasia” karya Remy Sylado dengan menggunakan pendekatan semiotika Barthesian untuk menelusuri konstruksi makna “lapar” sebagai tanda dan mitos spiritualitas modern. Analisis difokuskan pada relasi penanda–petanda serta pembentukan mitos yang merepresentasikan krisis hasrat, banalitas dosa, dan ambiguitas religius dalam kehidupan manusia modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa “lapar” tidak hanya berfungsi sebagai metafora kekurangan biologis, tetapi berkembang menjadi tanda ketidakpuasan eksistensial yang terus direproduksi oleh budaya konsumtif. Melalui ironi religius, terutama pada representasi malaikat dan percakapan rahasia dengan Tuhan. Puisi ini membangun mitos spiritualitas personal yang tidak tunduk sepenuhnya pada kesalehan normatif. Dalam konteks ini, Remy Sylado menghadirkan kritik budaya modern sekaligus membuka ruang pembacaan sufistik, di mana kejujuran batin dan kesadaran akan keterbatasan diri menjadi titik awal pengalaman spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa puisi tersebut berfungsi sebagai wacana kultural yang merefleksikan pergeseran makna spiritualitas dalam masyarakat kontemporer.
Kata kunci: semiotika sastra, lapar, mitos, spiritualitas modern, Remy Sylado.
References
- Bauman, Z. (2017). Consuming life. Polity Press.
- Barthes, R. (1972). Mythologies (A. Lavers, Trans.). Hill and Wang. (Karya asli diterbitkan
- 1957)
- Faruk. (2012). Sastra dan politik: Representasi intelektual Indonesia. Pustaka Pelajar.
- Fauziah, N., Luthfie, M., & Agustini, A. (2021). Makna mitos aspek spiritual lukisan Bali
- adu ayam dan barongsai: Analisis semiotika Roland Barthes. Jurnal Komunikatio,
- 7(1), 1–13. https://doi.org/10.30997/jk.v7i1.3506
- Haryatmoko. (2020). Etika publik: Untuk integritas pejabat publik dan politisi. Gramedia
- Pustaka Utama.
- Ismail, A. (2017). Religiusitas sastra Indonesia kontemporer: Antara iman dan kritik budaya.
- Humaniora, 29(2), 123–135. https://doi.org/10.22146/jh.v29i2.25467
- Maharani, S. P., Widodo, M., & Suyanto, E. (2024). Mengupas kritik sosial pada kumpulan
- puisi Mbeling karya Remy Sylado melalui rima, tipografi, dan enjambemen. Estetik:
- Jurnal Bahasa Indonesia, 8(2), 165–178. https://doi.org/10.29240/estetik.v8i2.13041
- Mulyaden, A. M. (2024). Kajian semiotika Roland Barthes terhadap simbol perempuan
- dalam Al-Qur’an. Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama, 4(2), 155–169.
- https://doi.org/10.15575/hanifiya.v4i2.13540
- Muzakka, M. (2021). Sastra dan budaya konsumsi: Kritik hasrat dalam sastra Indonesia
- mutakhir. Poetika: Jurnal Ilmu Sastra, 9(1), 45–58.
- https://doi.org/10.22146/poetika.v9i1.59842
- Ratna, N. K. (2013). Sastra dan cultural studies: Representasi fiksi dan fakta. Pustaka
- Pelajar.
- Rapi, M., Ridwan, R., & Toding, B. (2024). “Better to die young”: A hermeneutic analysis of
- protest and moral critique in Remy Sylado’s mbeling poetry. Tamaddun: Jurnal
- Pendidikan dan Humaniora, 24(1), 1–12.
- https://doi.org/10.33096/tamaddun.v24i1.943
- Ritzer, G. (2020). The McDonaldization of society: Into the digital age (9th ed.). Sage
- Publications.
- Saussure, F. de. (1983). Course in general linguistics (R. Harris, Trans.). Duckworth.
- (Karya asli diterbitkan 1916)
- Schimmel, A. (1975). Mystical dimensions of Islam. University of North Carolina Press.
- Widianto, A. (2018). Ironi dan kritik moral dalam puisi-puisi Remy Sylado. Litera, 17(1),
- 89–102. https://doi.org/10.21831/ltr.v17i1.19028