MAJAS SEBAGAI STRATEGI KRITIK KEKUASAAN DALAM TUTURAN ROCKY GERUNG: ANALISIS SEMANTIK KRITIS WACANA POLITIK
Diterbitkan 2026-02-14
Kata Kunci
- Majas; Semantik; Wacana Politik; Kritik Kekuasaan
Hak Cipta (c) 2026 Reka Mahardika (Author)

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan majas dalam tuturan Rocky Gerung sebagai sarana kritik kekuasaan dalam wacana politik Indonesia. Fokus penelitian diarahkan pada identifikasi jenis majas serta penafsiran makna semantik dan ideologis yang dikonstruksi melalui bahasa figuratif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian berupa tuturan Rocky Gerung yang mengandung majas, diperoleh dari tayangan diskusi publik dan media daring, kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi berbasis semantik dan wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majas yang dominan digunakan meliputi metafora, ironi, hiperbola, paradoks, repetisi, pertanyaan retoris. Majas-majas tersebut tidak bersifat hiasan, melainkan berfungsi simbolik dan ideologis untuk membingkai kekuasaan sebagai praktik manipulatif, paradoks, dan mengalami degradasi moral. Penggunaan majas dalam tuturan Rocky Gerung merepresentasikan strategi kritik politik yang menekankan delegitimasi kekuasaan melalui bahasa kiasan yang tajam dan konfrontatif. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa majas dalam wacana politik berperan penting sebagai instrumen pembentukan makna, opini publik, dan kritik ideologis terhadap praktik kekuasaan.